Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Hantu Sebagai Penjaga Perdamaian dan Ekologis

Gambar
Dalam banyak tradisi lokal di Asia Tenggara, Pasifik, dan Nusantara, figur hantu tidak semata-mata dipahami sebagai entitas menakutkan, tetapi sebagai mekanisme kultural yang mengatur perilaku sosial dan ekologis. Keyakinan terhadap roh penjaga, arwah leluhur, atau makhluk tak kasatmata sering bekerja sebagai "social control system" yang efektif dalam masyarakat pra-modern maupun komunitas adat kontemporer. Fenomena yang akhir-akhir ini booming di media sosial terkait kemunculan hantu di Lorong PLN Negeri Passo membuat banyak tanggapan masyarakat, ada yang mengatakan itu karena lingkungan sekitar kotor, sebab ketidaksadaran manusia yang buang sampah sembarangan. Salain itu, ada juga yang mengatakan bahwa dengan kemunculan hantu, maka akan membuat anak-anak muda yang sering kacau menjadi tertib. Bertolak dari pikiran masyarakat, kendatipun kemunculan hantu atau yang masih dipertanyakan kebenarannya, tetapi fenomena kemunculan hantu mengandung teguran yang mendidik, sebab masya...

Meletakkan Sejarah Gereja Protestan Maluku di Tengah Konstalasi Sosial dan Politik Bangsa Indonesia 1935–1945

Gambar
Dr. (Cand.) Fiktor Fadirsair, M.Th. (Ujian Kualifikasi Program Studi Doktor Teologi Konsentrasi Agama dan Kebangsaan, Program Pascasarjana UKIM-Ambon) Periode 1935–1945 merupakan dekade yang menentukan bagi perjalanan Gereja Protestan Maluku (GPM) sekaligus masa yang penuh turbulensi dalam sejarah Indonesia. Dalam rentang waktu ini, orang Maluku berhasil mencapai gereja Maluku yang otonom 1935 dan baru independen pada 1949 sebab telah lepas dari kungkungan kolonial dan secara mandiri GPM mengelola keuangannya sendiri. Dalam dinamika memperjuangkan gereja Maluku yang otonom dan independen, situasi menjelang Perang Dunia II membawa tekanan yang kompleks. Politik etis yang sebelumnya memberi ruang bagi mobilitas sosial perlahan digantikan oleh kontrol administratif yang lebih ketat dari pemerintah Hindia Belanda. Di tengah situasi itu, GPM berfungsi sebagai ruang konsolidasi kultural masyarakat Maluku, terutama dalam menjaga stabilitas sosial menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik....

KREDO KEMANUSIAAN MENGHANCURKAN FANATISME KEAGAMAAN: Sebuah Kritik Eklesiologi Terhadap Fenomena Natal Nasional Tahun 2025

Gambar
Fiktor Fadirsair (Mahasiswa Program Studi Doktor Teologi Konsentrasi Agama dan Kebangsaan UKIM-Ambon) Agama merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, namun seringkali dalam menjawab persoalan-persoalan hidup, manusia sering memposisikan dirinya secara pribadi maupun kolektif ke dalam pemahaman keagamaan yang eksklusif. Padahal, sejatinya sebuah agama, dapat memiliki fungsi untuk menjawab berbagai persoalan menyangkut kemanusiaan yang terjadi dalam masyarakat. Josef P. Widyatmadja dalam bukunya yang berjudul Yesus dan Wong Cilik mengatakan, agama seharusnya merupakan perwujudan cinta tidak hanya terhadap golongannya sendiri, tetapi terhadap semua golongan (Widyatmadja, 2017: 184). Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius dan sudah sepantasnya merasa resah melihat manusia beragama belum memberikan kontribusi positif konteks ber-Indonesia maupun dunia. Gerakan keagamaan di Indonesia cenderung masih didominasi oleh soal-soal dogmatis-teologis yang eksklusif. Agama p...