KREDO KEMANUSIAAN MENGHANCURKAN FANATISME KEAGAMAAN: Sebuah Kritik Eklesiologi Terhadap Fenomena Natal Nasional Tahun 2025
Fiktor Fadirsair
(Mahasiswa Program Studi Doktor Teologi Konsentrasi Agama dan Kebangsaan UKIM-Ambon)
Agama merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, namun seringkali dalam menjawab persoalan-persoalan hidup, manusia sering memposisikan dirinya secara pribadi maupun kolektif ke dalam pemahaman keagamaan yang eksklusif. Padahal, sejatinya sebuah agama, dapat memiliki fungsi untuk menjawab berbagai persoalan menyangkut kemanusiaan yang terjadi dalam masyarakat. Josef P. Widyatmadja dalam bukunya yang berjudul Yesus dan Wong Cilik mengatakan, agama seharusnya merupakan perwujudan cinta tidak hanya terhadap golongannya sendiri, tetapi terhadap semua golongan (Widyatmadja, 2017: 184).
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius dan sudah sepantasnya merasa resah melihat manusia beragama belum memberikan kontribusi positif konteks ber-Indonesia maupun dunia. Gerakan keagamaan di Indonesia cenderung masih didominasi oleh soal-soal dogmatis-teologis yang eksklusif. Agama pada esensinya hadir untuk manusia, bukan sebaliknya. Manusia yang beragama sudah sepatutnya menjalani hidupnya (individu maupun kolektif) sebagai makhluk sosial yang memihak pada kemanusiaan. Beragama seperti ini dapat membuat manusia menjadi peduli terhadap kepentingan sosial, ketidakadilan, dan kemiskinan. Ke arah itulah semua manusia yang beragama seharusnya merapatkan barisan dalam rangka membangun bangsa menuju kredo kemanusiaan (Nanuru, 2020: 5-6).
Atas dua pijakan berpikir di atas, maka rumusan kehidupan manusia penganut agama di Indonesia secara khusus penganut agama Kristen harus memiliki pernyataan dan pengakuan iman yang melampaui kehidupan beragama, yaitu dari cara beragama yang eksklusif menjadi inklusif sebagai kredo. Kredo sendiri adalah pernyataan kepercayaan bersama umat Kristen. Oleh karena itu, kredo umat Kristen Indonesia harus berpihak penuh kepada mereka (bahkan mereka yang tidak seagama) yang termarjinalkan dan haknya dirampas, sebagai sebuah pertanggungjawaban iman kepada Kristus.
Kehidupan manusia beragama terkadang salah mengartikan doktrin keagamaan yang justru melihat sesama adalah mereka yang sesuku, seagama, dan satu negara, sedangkan di luar itu justru tidak dianggap. Kendatipun demikian, panitia perayaan hari natal nasional 2025 yang diketuai oleh Maruarar Sirait, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan bahwa persembahan natal nasional 2025 yang direncanakan akan berlangsung di Stadion Tenis Indoor pada 5 Januari 2026, akan diberikan untuk bantuan kemanusian Palestina. Hal tersebut cenderung mendapat tanggapan negatif dari masyarakat Indonesia, khusunya yang beragama Kristen, sebab banyak yang terkurung dalam jeruji pemaham keagamaan yang eksklusif. Ada yang mengomentari pernyataan ketua umum panitia natal nasional tersebut, dengan mengatakan bahwa kenapa tidak diberikan kepada masyarakat Indonesia atau khusus yang beragama Kristen. Ada juga yang mengomentari agar persembahan tersebut diberikan saja kepada masyarakat di Papua.
Ragam tanggapan masyarakat Indonesia memang tidak salah, sebab itu ungkapan batin mereka, tetapi persembahan hari natal nasional 2025 juga tidak keliru apabila diberikan kepada masyarakat Palestina atas dasar kemanusiaan, sebab pada puncak perayaan ini pula, berdasarkan keterangan dari Ketum PP GMKI, Prima Surbakti yang juga adalah panitia hari natal nasional 2025, bahwa perayaan natal nasional 2025 akan mengundang sekaligus memberikan bantuan kepada 500 koster, 500 guru sekolah minggu, 500 guru agama dan 500 anak panti asuhan dan difabel. Selain itu, akan dilaksanakan bakti sosial melalui pembagian paket sembako dan bantuan pendidikan sebesar 10 miliar di berbagai wilayah Indonesia, melibatkan UMKM sekaligus memberdayakan talenta lokal yang bagus dari hasil gotong royong berbagai pihak tanpa membebankan APBN dan BUMN (dapat dibacakan pada WWW.LIPUTAN7NEWS.COM - AKURAT, TAJAM DAN TERPERCAYA).
Berdasarkan seluruh keterangan yang akurat ini, maka jelas bahwa tidak sedikitpun ditemukan kekeliruan atas tindakan yang akan dilakukan panitia hari natal nasional 2025, sebab menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan keagamaan Indonesia, sekaligus mempertegas eklesia humanis (bergereja yang humanis). Fenomena ini mengundang kritik eklesiologis ketika solidaritas berpotensi digunakan sebagai artikulasi identitas keagamaan yang eksklusif atau bahkan sebagai simbol politik yang menutupi panggilan sejati gereja yang adalah orang-orang percaya yang secara sadar bertujuan untuk membangun kemanusiaan universal.
Pada akhirnya, kredo kemanusiaan menjadi prinsip normatif yang menguji kesungguhan penganut agama Kristen dalam merayakan natal, bahwa persembahan yang akan diberikan kepada Palestina dengan kesadaran integritas teologis yang mengutamakan martabat manusia di atas identitas kelompok. Hal ini mengajak umat beragama (khusunya Kristen) untuk memperbarui orientasinya, yaitu dari fanatisme agama menuju kemanusiaan, dari simbolisme menuju praksis keadilan, dan dari identitas komunal menuju solidaritas yang melampaui batas-batas agama.
Daftar Pustaka
Nanuru, R. F. (2020). Gereja Sosial: Menurut Konsep Rasionalitas Komunikatif Jurgen Hebermas. Deepublish.
Widyatmadja, J. P. (2017). Yesus dan Wong Cilik: Praksis Diakonia Transformatif dan Teologi Rakyat di Indonesia. BPK Gunung Mulia.

Komentar
Posting Komentar