Postingan

Strategi Pembentukan Kader AMGPM melalui Sistem Pendidikan Berjenjang: Sebuah Refleksi Terhadap Pendidikan Kader Jenjang Dasar, Menengah, dan Lanjutan”

Gambar
  Bung M. Sairdekut, S.Hut., M.Si. (Katua Umur Pengurus Besar AMGPM) & Fiktor Fadirsair (Peserta Pendidikan Kader Jenjang Lanjutan) Model pengembangan kepemimpinan progresif dalam Pendidikan Kader Jenjang Dasar (PKJD), Pendidikan Kader Jenjang Menengah (PKJM), dan Pendidikan Kader Jenjang Lanjutan (PKJL) AMGPM menekankan pentingnya proses kaderisasi yang bertahap, sistematis, dan berorientasi pada pembentukan karakter pemimpin muda yang matang. Melalui pendidikan jenjang dasar, peserta dibekali pemahaman mengenai identitas organisasi, spiritualitas dasar, serta nilai-nilai pelayanan yang menjadi fondasi bagi seorang kader AMGPM. Proses ini bertujuan membangun komitmen awal, motivasi internal, dan kesadaran berorganisasi sebagai landasan bagi pengembangan kepemimpinan di tahap berikutnya. Pada jenjang menengah dan lanjutan, model pengembangan kepemimpinan ini diarahkan pada pendalaman kapasitas analitis, kemampuan mengambil keputusan, serta kecakapan strategis dalam mengelola di...

Hantu Sebagai Penjaga Perdamaian dan Ekologis

Gambar
Dalam banyak tradisi lokal di Asia Tenggara, Pasifik, dan Nusantara, figur hantu tidak semata-mata dipahami sebagai entitas menakutkan, tetapi sebagai mekanisme kultural yang mengatur perilaku sosial dan ekologis. Keyakinan terhadap roh penjaga, arwah leluhur, atau makhluk tak kasatmata sering bekerja sebagai "social control system" yang efektif dalam masyarakat pra-modern maupun komunitas adat kontemporer. Fenomena yang akhir-akhir ini booming di media sosial terkait kemunculan hantu di Lorong PLN Negeri Passo membuat banyak tanggapan masyarakat, ada yang mengatakan itu karena lingkungan sekitar kotor, sebab ketidaksadaran manusia yang buang sampah sembarangan. Salain itu, ada juga yang mengatakan bahwa dengan kemunculan hantu, maka akan membuat anak-anak muda yang sering kacau menjadi tertib. Bertolak dari pikiran masyarakat, kendatipun kemunculan hantu atau yang masih dipertanyakan kebenarannya, tetapi fenomena kemunculan hantu mengandung teguran yang mendidik, sebab masya...

Meletakkan Sejarah Gereja Protestan Maluku di Tengah Konstalasi Sosial dan Politik Bangsa Indonesia 1935–1945

Gambar
Dr. (Cand.) Fiktor Fadirsair, M.Th. (Ujian Kualifikasi Program Studi Doktor Teologi Konsentrasi Agama dan Kebangsaan, Program Pascasarjana UKIM-Ambon) Periode 1935–1945 merupakan dekade yang menentukan bagi perjalanan Gereja Protestan Maluku (GPM) sekaligus masa yang penuh turbulensi dalam sejarah Indonesia. Dalam rentang waktu ini, orang Maluku berhasil mencapai gereja Maluku yang otonom 1935 dan baru independen pada 1949 sebab telah lepas dari kungkungan kolonial dan secara mandiri GPM mengelola keuangannya sendiri. Dalam dinamika memperjuangkan gereja Maluku yang otonom dan independen, situasi menjelang Perang Dunia II membawa tekanan yang kompleks. Politik etis yang sebelumnya memberi ruang bagi mobilitas sosial perlahan digantikan oleh kontrol administratif yang lebih ketat dari pemerintah Hindia Belanda. Di tengah situasi itu, GPM berfungsi sebagai ruang konsolidasi kultural masyarakat Maluku, terutama dalam menjaga stabilitas sosial menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik....

KREDO KEMANUSIAAN MENGHANCURKAN FANATISME KEAGAMAAN: Sebuah Kritik Eklesiologi Terhadap Fenomena Natal Nasional Tahun 2025

Gambar
Fiktor Fadirsair (Mahasiswa Program Studi Doktor Teologi Konsentrasi Agama dan Kebangsaan UKIM-Ambon) Agama merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, namun seringkali dalam menjawab persoalan-persoalan hidup, manusia sering memposisikan dirinya secara pribadi maupun kolektif ke dalam pemahaman keagamaan yang eksklusif. Padahal, sejatinya sebuah agama, dapat memiliki fungsi untuk menjawab berbagai persoalan menyangkut kemanusiaan yang terjadi dalam masyarakat. Josef P. Widyatmadja dalam bukunya yang berjudul Yesus dan Wong Cilik mengatakan, agama seharusnya merupakan perwujudan cinta tidak hanya terhadap golongannya sendiri, tetapi terhadap semua golongan (Widyatmadja, 2017: 184). Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius dan sudah sepantasnya merasa resah melihat manusia beragama belum memberikan kontribusi positif konteks ber-Indonesia maupun dunia. Gerakan keagamaan di Indonesia cenderung masih didominasi oleh soal-soal dogmatis-teologis yang eksklusif. Agama p...

ISLAM KRISTEN DI MALUKU, SEGREGASI ABADI? MENCARI JALAN DAMAI

Gambar
  Seorang tokoh Muslim bernama Buya Syakur, pernah berkata, "yang kita butuhkan di Indonesia bukan toleransi, tetapi kesetaraan." Dengan pernyataan Buya Syakur ini, ada sesuatu yang beginya secara mendalam telah ia geluti dan mengharapkan agar terciptanya Indonesia yang setara dalam kehidupan sosial masyarakat (HAM). Toleransi memang mengarahkan pada tindakan untuk saling menghargai dan menghormati sebagai sesama warga negara yang berkeyakinan berbeda (memeluk agama yang berbeda). Kendatipun demikian, jika toleransi itu dilihat pada sisi lain, akan ada sebuah tindakan tolerir terhadap sesuatu yang sedang terjadi khususnya tindakan kekerasan. Sebagai gantinya, terjadi pendekatan yang bertujuan untuk sebuah jalan perdamaian. Hal tersebut tidak salah, namun jalan damai yang dilakukan untuk terjadinya kehidupan saling menerima perbedaan telah didasarkan pada kesadaran setiap pelaku dan korban kekerasan atau tidak? Jika rekonsiliasi perdamaian terjadi hanya dengan cara pemerintah ...

MENG HARI-INI-KAN INJIL KEPADA ANAK-ANAK

Gambar
Meng-hari-ini-kan Injil kepada anak-anak adalah sebuah hakikat dari kontekstualisasi, sebab banyak sekali hal yang bersifat abstrak, termasuk pemahaman akan Allah. Oleh karena itu, dengan meng-hari-ini-kan Injil, maka itu merupakan sebuah upaya untuk berada pada tataran empiris, di mana sebuah aksi praksis menjadi kunci atas jawaban meng-hari-ini-kan Injil kepada anak-anak. Gereja perlu berada pada situasi di mana menyesuaikan dirinya dengan bentuk eklesiologi yang berwujudkan anak dan bertumbuh di dalam anak. Sejak masa kepemimpinan MPH Sinode GPM periode 2015-2020, setiap perayaan HUT GPM pada tanggal 6 September, selalu dilakukan kajian yang pada akhirnya dicetak dalam sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan. Hal ini sebagai tujuan untuk memastikan panggilan GPM sebagai gereja yang berkontribusi merawat dan mengarahkan peradaban demi mendukung keberlanjutan hidup manusia dan semesta sebagai karya Tuhan. Salah satu isu yang merupakan telaah GPM pada perayaan HUT yang ke-83 pada tahu...

HIMPUNAN MAHASISWA DAN PEMUDA LELEMUKU KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR MENG-HARI-INI-KAN HUKUM BAGI MASYARAKAT

Gambar
Pada hari ini, Sabtu, 15 Maret 2025. Bertempat di Cafe Teluk Indah Kota Ambon, dilakukan launching Yayasan Pusat Bantuan Hukum (YPBH) Himpunan Mahasiswa Pemuda Lelemuku- Kabupaten Kepulauan Tanimbar (HIMAPEL-KKT) diresmikan Gubernur Maluku yang dalam hal ini diwakili oleh Dr. Alwiyah Fadlun Alaydrus, SH., MH. (Kepala Biro Organisasi Setda Provinsi Maluku) yang dulunya pernah menjadi Penjabat Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Launching ini dilakukan deng bertolak pada tema, "Dari Bumi Duan-Lolat Kami Tegakkan Keadilan untuk Semua." Yayasan Pusat Bantuan Hukum Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Tanimbar hadir dari buah pikir bersama seluruh potensi Mahasiswa dan Pemuda Tanimbar yang digagas bersama dalam rapat kerja VIII HIMAPEL-KKT dengan melatarbelakangi masalah-masalah sosial yang pada saat ini membutuhkan supremasi hukum yang berpihak pada masyarakat kecil. Visi dari Yayasan Pusat Bantuan Hukum Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Lelemuku Kabupaten Kepulauan Tanimbar bertujuan untu...